Istri Dib4c0k Suami, Sekelumit Catatan Pahit Dari Rentetan KDRT di Bima

banner 120x600

Bima ~ Bapeka Nusantara ~ Tak diberi Uang untuk membeli Tramadol, seorang Suami asal desa labuan kananga kecamatan tambora kabupaten bima-ntb. Kini tega membacok Istrinya sendiri dipagi hari, peristiwa ini menggegerkan publik Bima-Dompu, pada Jum’at pagi kemarin. Adapun atas nama “Dessy” merupakan istri yang menjadi Korban, dari dugaan kekejaman sang suami kecanduan Obat Keras jenis Tramadol, ini harus menahan sakit dipundaknya.

Luka menganga di bagian pundak dan tangan akibat tebasan parang sang suami. Dessy menahan perih 13 jahitan dengan kedalaman luka 2,8 cm hingga saat ini, suami masih dalam buruan aparat penegak hukum APH.

Disinyalir, pernyataan rilisan akun Facebook yang masih dirahasiakan Media ini. KDRT dengan kekerasan seperti ini, bukan hal baru dan kerap terjadi di Bima. Maret lalu, di Desa Piong – Sanggar, seorang istri dibacok beberapa kali oleh Suaminya lantaran istrinya ngomel terus akibat suami kecanduan judol dan narkoba. Dan istri harus menjalani perawatan intensif akibat luka bacokan disekujur tubuhnya. Ujarnya

Masih ingat kasus Pasutri di Kalaki akhir 2025 yang lalu?? Sang istri mendapati sang suami sedang minum Alkohol di Kalaki, lalu Sang Istri mengajaknya pulang dan berhenti minum. Bukan nurut, sang suami malah mendekat menusuk istrinya hingga meninggal ditempat.

Tidak berselang ditahun yang sama, masih ingat si Puput, pasutri asal Langgudu yang dipukul dan disiksa oleh suaminya hingga muka lebam dan mata memar mengeluarkan darah?? Lantaran istri minta berhenti minum karena anak semata wayang mereka yang sedang sakit. Sorotan publik

Kasus yang tak kalah viral, seorang TKW asal Ule – Kota Bima, awal 2025 yang lalu, baru seminggu pulang dari Luar Negeri, dibunuh oleh suami sendiri lantaran istri minta cerai karena sang suami ketahuan selingkuh dan uang habis untuk narkoba. Hasil jerih payah istri habis, di sia-siakan oleh sang suami.

Di Kananta Soromandi, september 2024, Sang Istri diparangi wajahnya dan mertua ditikam saat Khutbah Jumat berlangsung. Sang suami adalah residivis dan pecandu sabu.

Dan masih banyak jejak kasus KDRT yang terungkap dari tahun ketahun. Ibarat Gunung Es, yang nampak adalah yang dilaporkan akibat kekerasan yang sudah melampaui batas. Namun yang didamaikan atas nama ‘Masih Cinta’ dan ‘Demi Anak’ meski lebam sekujur tubuh, tak terhitung jumlahnya.

Kasus KDRT di Bima, sampai kehilangan nyawa rata-rata dalam setahun mencapai 3 kasus sejak tahun 2017. Sementara KDRT luka parah (dibacok, disiksa, dianiyayah) mencapai 5 kasus per tahun. KDRT yang damai pada tingkat Polsek dan pencabutan laporan, rata-rata mencapai 8 kasus per tahun. Sementara yang bermuara di Pengadilan Agama, Tak terhitung jumlahnya. (diolah dari berbagai sumber).

Selain dipicu oleh ‘3S’ – (Slot, Sabu, Seks), KDRT dominan akibat turut campurnya pihak lain yang berpihak pada salah satu pasangan. Misalnya mertua atau orang tua yang tetap membela anaknya. Dan atau ikut terlibatnya saudara kandung dalam urusan Rumah tangga pasangan tersebut. Sehingga tak heran, mertua kadang kena imbas kekerasan dan tindak kriminal.

Lagi-lagi, jangan normalisasi ‘atas nama cinta’ dan ‘atas nama anak’ jika KDRT sudah mulai terjadi dari suami yang sudah ketergantungan Narkotika, Psikotropika, Alkohol dan Judi online, ditengah kondisi ekonomi kehidupan keluarga yang memang bukan pada level ‘papan menengah keatas’.

Sebab, emosi, kalap, gelap mata, biasanya terjadi pada pasutri yang memang keadaan ekonominya dibawah. Kondisi ekonomi memicu perseteruan, dari perseteruan merefleks emosi tak terkendali sehingga mendorong tindak kriminal terjadi….!!!

Kasus Dessy Kananga – Tambora, adalah pelajaran kesekian belas kalinya disuguhkan oleh Dunia nyata tentang dinamika kehidupan Rumah Tangga, kepada para orang tua yang sedang menimbang pasangan hidup anaknya!!! Salah pilih pasangan, berakibat kesengsaraan lahir dan bathin! Terlepas dari perjalanan Jodoh dan nasib seseorang!!!

Hingga caption salah satu akun Facebook yang diberitakan ini dan dipublikasikan, pihak kepolisian Polres Bima melalui Kasatreskrim belum ada keterangan resmi terkait perkembangan tersebut, apakah terduga pelaku sudah di amankan. Semoga pihak Polres Bima melakukan penangkapan dan mengamankan, jika lambat dikhawatirkan ada persepsi lain terhadap APH.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *