BIMA~ Bapeka Nusantara ~ Viral sorotan publik langkah ketua aliansi PPS Ilham Yahyu, mewakili suara masyarakat sipil menyampaikan desakan resmi kepada jajaran Polda NTB, melalui media sosial Facebook terkait pengungkapan kasus narkoba yang disinyalir melibatkan oknum Buser Reserse Narkoba Polres Dompu dan pasangan suami-istri.
Desakan ini disampaikan menyusul penggerebekan oleh Tim Resnarkoba Polres Bima di (TKP) Desa Sandue, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima-NTB.
Ilham Yahyu mendesak 3 poin tindakan cepat dan presisi sesuai KUHAP:
“Segera menangkap terduga pemilik sabu 1 kg inisial TF atas pengakuan 2 terduga anak di bawah umur siswa SMA Negeri Dompu NTB yang telah diamankan. Proses hukum wajib jalan tanpa pandang bulu,” tegas Ilham.
Copot & Proses Oknum Polri
“Segera mencopot anggota Polri Buser Reserse Narkoba Polres Dompu yang diduga bersama pasangan suaminya, terduga pelaku narkoba 5,3 gram diamankan di TKP Desa Sandue, Kec. Sanggar, Kab. Bima-NTB. Jika terbukti, proses pidana dan kode etik Polri harus ditegakkan,” lanjutnya.
“Jikalau peristiwa hukum ini tidak segera diungkap dengan transparan dan presisi sesuai KUHAP & UU Narkotika, maka gerakan masyarakat sipil akan menuntut Kapolres dan Kasat Narkoba untuk dicopot. Masyarakat berhak tahu fakta sebenarnya,” tegas Ilham.
Ilham menyebut pihaknya mendapatkan foto, merupakan fakta terduga oknum Buser Narkoba dengan tangan diborgol. Saat ini, menyebarluaskan foto tersebut ke publik.
“Apakah publik mengenalnya dari foto ini? Kami serahkan sepenuhnya ke Propam Polda NTB untuk verifikasi dan konfirmasi resmi,” ujar Ilham.
Uswatun Hasanah yang biasa disapa Badai NTB Aktivis bongkar bandar, menyoroti Dugaan praktek olah tempat kejadian perkara (TKP) dan Rilisan polisi, Ibu ( bhayangkari atas nama berinisial ees) ditangkap dengan BB 5,25 gram, 20 tablet tramadol dan uang tunai 22.092.000 serangkaian dari barang bukti disita Team Resnarkoba Polres Bima di rumah pribadi milik oknum polisi tersebut di Desa Sandue kecamatan sanggar, kabupaten bima pada tanggal 07 Juni 2026.
Disinyalir Bripka H.K (suami) dari EES, lagi-lagi menurut rilis polisi sedang ada di masjid. Tapi di dalam video saat dilakukan penggrebekan sekaligus penangkapan, jelas tangan Bripka H.K yang duluan di borgol, anehnya dalam foto pembuktian barang bukti (BB) hanya ada istrinya. Ungkap Badai NTB Cukup sampai disini.!
Menurutnya, sekarang logika sipil yang mempelajari ilmu kriminologi.
Jika benar yang diamankan hanya istrinya yaitu si Kari bayangkari, mengapa dalam video penangkapan yang beredar. Justru Bripka H.K yang terlihat lebih dahulu diborgol?
Apakah statusnya Bripka H.K saat itu? Saksi? Terperiksa? Turut diamankan? Atau apa?
Jika seorang suami dari terduga istrinya yang amankan, tidak berada di rumah saat penggerebekan. Maka pihak kepolisian Polres Bima melalui kasat Resnarkoba menjelaskan, apakah itu otomatis menjawab seluruh pertanyaan tentang aktivitas yang terjadi di rumah tersebut?. Ataukah masih perlu didalami siapa menguasai rumah, mengetahui aktivitas rumah, dan menikmati hasil aktivitas dalam rumah tersebut? Bebernya sambil bertanda tanya
Kemudian, barang bukti ditemukan di rumah tersebut. Rumah itu milik siapa? Dikuasai siapa? Ditinggali siapa saja? Siapa saja yang memiliki akses terhadap lokasi penyimpanan barang bukti? Apakah publik tidak berhak mengetahui penjelasan itu?
Mengapa video dan narasi rilis resmi terlihat berbeda fokus?, karena penangkapan membuat publik melihat satu hal. Rilis diduga tidak mengarahkan pada yang di borgol, apa mungkin, saya hanya melihat hal lain. Sekiranya pihak Polres Bima memberikan penjelasan yang belum disampaikan?, jangan sampai kami membuat narasi diluar skenario dengan fakta sudah beredar luas. Tegasnya
Jika warga biasa berada dalam situasi yang sama, apakah prosedur yang diterapkan akan persis sama? Atau berbeda? Kalau berbeda, di bagian mana? Meski bagian ini terang perbeda’annya berninja dan berimpu
Uang tunai Rp22 juta lebih itu berasal dari mana? Melihat Kasat narkoba polres Bima langsung turun sendiri di lokasi penangkapan, artinya sebelum pecah paket barang tersebut sudah teridentifikasi sebagai barang besar bukan?. Imbuhnya
Mengapa Kasat Narkoba turun langsung ke lokasi? Apakah memang setiap penangkapan narkoba di wilayah tersebut selalu dipimpin langsung oleh Kasat? Ataukah kasus ini memiliki karakteristik khusus? Jika khusus, apa yang membuatnya berbeda?.
Lokasi penangkapan berada di Sandue. Sementara Kantor Polres Bima berada cukup jauh dari lokasi tersebut. Jika benar ini hanya perkara penangkapan rutin, apa yang membuat perhatian terhadap operasi ini begitu besar?. Cetusnya
Dalam ilmu investigasi itu bukan siapa yang ditangkap? Melainkan mengapa target itu menjadi prioritas?
Apakah penyidik hanya sedang menangani dugaan kepemilikan barang bukti? Atau juga sedang memetakan jaringan, komunikasi, transaksi, dan hubungan para pihak? Meski sementara K4sat menyampaikan bahwa HP sedang di kloning. Pungkasnya(Red/Aryadin)
Sembari menunggu tanggapan pihak kepolisian Polres Bima, hingga berita ini dipublikasikan saat dikonfirmasi melalui via WhatsApp pribadinya Kasat Resnarkoba dan kasi Humas belum ada komentar resminya. Pimred media ini selalu untuk melakukan klarifikasi demi keseimbangan pemberitaan.


