BIMA, Bapeka Nusantara – Nama Amiruddin Reynal, yang akrab disapa Bang Buser, kini jadi sorotan tajam di kalangan masyarakat Bima. Sorotan itu bukan karena kontroversi, tapi karena kisah perjalanan hidupnya yang inspiratif: dari sopir angkot, beralih ke dunia jurnalis, hingga meraih posisi sebagai pendiri media serta meluaskan wawasan berdikari dalam menjalankan kehidupan.
Kisahnya, jadi bukti nyata bahwa kerja keras, kemampuan beradaptasi dan ketekunan mampu mengubah takdir seseorang secara drastis. Perjalanan kariernya bisa dibagi 3 fase utama:
Bagi Bang Buser, jadi sopir angkot adalah “universitas lapangan” pertama.
” Jadi sopir angkot ngajarin saya disiplin, hafal rute, dan yang paling penting: paham dinamika masyarakat kelas bawah,” ungkap bang buser.
Fase ini menempa mentalitas tahan banting. Target setoran harian, panas-hujan, sampai berhadapan dengan berbagai karakter penumpang dan rintangan dijalan, jadi guru terbaik yang membentuk karakternya.
Keputusan hijrah ke dunia jurnalistik jadi titik balik. Profesi wartawan membuka pintu untuk menyelami realitas sosial, ekonomi, dan politik masyarakat lebih dalam. Ujarnya pada hari Senin 15 Juni 2026
Tak luput dari ini, Bang Buser mengasah 4 keahlian krusial.
1. Komunikasi persuasif ngobrol dengan narasumber dari pejabat sampai tukang ojek.
2. Kemampuan wawancara dan investigasi, membongkar fakta di balik berita.
3. Analisis berita dan riset data – biar tulisan gak asal bunyi.
4. Membangun jaringan luas dari ruang redaksi sampai ke lapangan.
Fase Kesuksesan Akselerasi dari Pena ke Pimpinan, Bekal wawasan jurnalistik yang tajam dan pengalaman “rasa rakyat” dari angkot, mengantarkan Bang Buser naik kelas jadi pengusaha sukses
Akses informasi dan relasi penting yang didapat selama jadi jurnalis, ia gunakan untuk melihat peluang. Hasilnya, sukses menempati posisi kepemimpinan sebagai pendiri media/perusahaan.
“Dulu bawa penumpang, sekarang bawa berita.Tapi tujuannya sama, nganterin kebenaran ke tujuan yang tepat,” tuturnya sambil tersenyum.
Pesan untuk anak muda bima, kisah Bang Buser jadi pengingat: latar belakang bukan penghalang. Dari setir angkot pun bisa sampai ke meja redaksi, asal mau kerja keras dan terus belajar. 
Foto yang beredar memperlihatkan gaya khasnya, tetap turun ke warung kopi, ngobrol langsung dengan warga. “Jurnalis gak boleh jauh dari lapangan. Sumber berita ada di meja warung kopi, bukan cuma di ruangan AC. Pungkasnya


